Rabu, 13 Februari 2013
Adilnya Ia
Adilnya Ia
Memikirkan apa yang orang lain bisa, apa yang orang lain dapat, apa yang orang lain kuasai, terkadang membuatku iri dan depresi. Mengapa mereka? Mengapa bukan aku? Mengapa sepertinya Tuhan bertindak tidak adil? Mengapa nasib tak pernah berpihak padaku? Hingga lelah aku menyuarakan jutaan keirian yang mengisi hati.Tapi kemudian aku tersadar. Bersamaan air mata yang mulai mengalir perlahan, satu fakta itu muncul ke permukaan. Jawabannya hanya satu. Aku kurang berusaha. Aku masih jauh dari kata kerja keras.
Ia yang kuliah di STAN, ia yang kuliah di UI, ia yang dapat beasiswa, ia yang punya pacar, ia yang pintar masak, ia yang punya banyak teman.
Aku ingin menjadi ia. Tapi aku tak pernah berupaya sekeras ia. Tak pernah merelakan pikiran, tenaga, dan waktu untuk mendapatkan apa yang sekarang ia dapatkan. Jadi, mengapa aku ingin menjadi ia kalau aku tak seperti ia?
Tuhan tak pernah tidak adil. Ia selalu menempatkan segala sesuatu sesuai porsinya. Masalah kurang atau berlebih, itu adalah kesempatan bagi manusia untuk mengubahnya. Untuk memperbaikinya agar sesuai dengan yang diinginkan.
Lantas mengapa aku menangis? Apa yang aku tangisi? Sedikit usahaku lah yang harusnya aku salahkan. Bukan nasib, apalagi Tuhan. Tapi aku.
Sebuah Tanya
Sebuah Tanya
“Akhirnya semua akan tibaPada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih berbicara
selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(Kabut tipis pun turun pelan-
pelan di lembah kasih,
Lembah mendala wangi
Kau dan aku tegak berdiri,
Melihat hutan-hutan yang
menjadi suram
Meresapi belaian angin yang
menjadi dingin)
“Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika ku dekap kau,
Dekaplah lebih mesra,
Lebih dekat”
(Lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita
berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara
Tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah
menyelimuti jakarta kita)
“Apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta?”
(Haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal
Berbicara dalam bahasa
yang tidak kita mengerti
Seperti kabut pagi itu)
“Manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru”
(Soe Hok Gie)

Puisi Terakhir Gie
Puisi Terakhir Gie
Pada orang yang menghabiskan waktunya ke MekkahPada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biavra
Tapi aku ingin mati disisimu sayangku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya, tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkkan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tetapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu
Soe Hok Gie
Langganan:
Komentar (Atom)
